"CARLOS" Sewindu Dekat Bung Karno (119-123)

Bila BK berada di Roma, ibu kota Italia, seorang sopir warga Italia bernama Carlos selalu diperbantukan dan mengemudikan kendaraan yang dinaiki BK. Kedutaan RI setempat telah menyeleksinya diantara berpuluh sopir dari suatu perusahan angkutan di Roma dan Carlos tersebut menjadi spir kepercayaan.

Suatu ketika BK dan rombongan berada di Roma. Begitu turun dari kapal terbang dan Bk naik mobil yang disediakan baginya ternyata sopirnya bukan Carlos. Langsung BK bertanya kepada Duta Besar RI yang menjemputnya,
                “Mengapa sopirnya lain? Ke mana Carlos ?”
                “Ia sedang cuti ke Swiss, Pak,” jawab Dubes.      
                “Panggil dia pulang, saya mau Carlos!” kata BK.
                “Baik, Pak.”

Begitu kami tiba di hotel tempat rombongan menginap, saya menanyakan kepada staf kedutaan mengenai Carlos tersebut. Ternyata ceritanya cukup menarik. Kenyataan bahwa Carlos selalu menjdai sopir BK, ternyata menimbulkan iri hati diantara teman-temannya sekerja. Mereka ingin juga menjadi sopir BK, Presiden RI yang namanya amat populer di antara mereka. Mereka menuntut kepada pemimpin perusahan agar diadakan pergiliran tugas. Pemimpin perusahan yang cukup bijksana memenuhi tuntutan mereka dan menunjuk sopir lain untuk mengemudi mobil BK, sedangkan Carlos diberi cuti ke Swiss beserta keluarganya atas biaya perusahan. Namun BK menghendaki Carlos, hal itu harus terlaksana. Staf kedutaan segera menghubungi perusahan tersebut agar Carlos segera dipanggil pulang. Pada suatu kesempatan yang baik, saya menceritakan semuanya itu kepada BK.

Keesokan harinya sewaktu BK sedang makan pagi dalam suasana santai, Carlos masuk ruangan dengan berpakaiaan seragama pengemudi rapi. Dengan wajah yang amat cerah menggambarkan kegembiraan hatinya ia memberi hormat secara militer kepada BK dan berkata,
                “Your excellency, I am at your service.”
                BK tersenyum lebar, ia mengulurkan tangan yang segera dijabat Carlos, dan berkata,
                “Well, Carlos, where have you been? I missed you. Bagaimana kabar istri dan anak-anakmu?”

Disapa begitu oleh BK, kelihatan benar betapa bahagia Carlos. Ia segera menjawab,
             “Mungkin Paduka Yang Mulia sudah mendengar ceritanya. Saya dipakasa cuti ke Swiss beserta keluarga. Saya akui memang menyenangkan kami, apalagi semua ongkos dibiayai perusahan. Tetapi kemarin sore sewaktu kami mendapat berita dari perusahan agar kami segera pulang karena saya harus melayani Paduka Yang Mulia, kami menjadi lebih gembira lagi. Bahkan istri saya mendesak agar kami cepat-cepat kembali ke Roma. Dan, inilah saya... siap melayani Paduka Yang Mulia.”

Ternyata BK juga tidak egois memikirkan diri sendiri saja. Pada suatu kesempatan makan malam disuatu restoran BK memerintahkan ajudan agar semua sopir dalam rombongan diundang turut makan. Ada sepuluh orang termasuk Carlos. Mereka duduk mengitari dua meja dan makan hidangan yang sama dengan yang dimakan rombongan BK. Bahkan lebih dari itu. Adalah menjadi adat kebiasaan orang Itali, makan malam bersama keluarga di rumah atau di restoran bersama teman merupakan pesta kecil sebagai penutup hari. Diantara mereka makan malam itu dapat berlangsung selama tiga jam atau lebih, sambil mengobrol dan minum anggur tiada hentinya.

Karena itu, mendapat kehormatan diundang makan bersama BK di restoran spagheti yang tersohor,  benar-benar mengembirakan para pengemudi itu. Anggur pun dapat diminum sepuas-puasnya. Kegembiraan mereka mencapai puncaknya sewaktu BK mendatangi meja mereka sebentar dan mengucapkan terima kasih atas kesediaan mereka melayani rombongan.

Saat meninggalkan Roma telah tiba. Semua anggota rombongan telah meninggalkan kamar masing-masing dan siap naik mobil yang akan membawa rombongan ke lapangan udara. BK keluar dari lobi hotel menuju mobil yang tersedia di depan pintu. Seketika ia berhenti, melihat semua sopir berdiri berbaris rapi di depan pintu sambil memegang topi seragamnya. Lalu terdengar aba-aba, “One, two, three!” dan terdengarlah suara para pengemudi itu bernyanyi,
                “Bung Karno siapa yang punya,
                 Bung Karno siapa yang punya,
                 Bung Karno siapa yang punya,
                Yang punya kita semua.”

Sungguh sangat mengharukan detik itu. Mereka, pengemudi berkebangsaan Itali menyanyikan suatu lagu yang amat populer waktu itu dan dinyanyikan dalam bahasa Indonesia yang baik. Ternyata mereka telah belajar dari salah seorang anggota staf Kedutaan Indonesia dan mereka sangat menyenangi lagu tersebut.

BK menyatakan terima kasih dan berjabatan tangan dengan semua pengemudi itu satu per satu. BK telah merebut hati semua pengemudi di Roma.

Oleh Bambang Widjanarko, salah seorang ajudan Bung Karno selama kurun waktu 1960-1967, dikutip dari buku “SEWINDU DEKAT BUNG KARNO”.

0 Responses to " "CARLOS" Sewindu Dekat Bung Karno (119-123)"